Jumat, 16 November 2012


Amanah, oh Amanah...

Oke, Ulasan kali ini sedikit lebih berat. Jika dari tulisan-tulisan lalu lebih banyak berbicara cinta dan kehidupan, maka kali berbeda. Let’s cekidot.

Berbicara soal amanah, maka yang terlintas dalam benak kita adalah sebuah pertanggung jawaban, sebuah kepercayaan. Amanah. Sebuah kata yang terdengar sederhana, tapi ternyata runyam jika tidak dilaksanakan dengan baik, Ketika ALLOH mempercayakan sebuah amanah kepada kita, maka sebenarnya amanah itu adalah sebuah tugas yang mampu kita jalankan. Ketika amanah itu “mampir” di pundak kita, maka sebenarnya pundak kita mampu memikulnya meskipun terkadang harus tertatih-tatih.

Kita mengenal amanah dimulai sedari kita kecil, SD, SMP, dan SMA. Di Bangku kuliah, bahkan  pemahaman sebuah amanah jauh lebih ditekankan lagi, tentang arti tanggung jawab dan kewajiban dalam menjalani amanah, serta konsekuensi terhadap amanah itu sendiri.
Lebih spesifik lagi, di tahun 2012 ini ada 3 amanah utama yang dirasa menjadi “pemberat” pundak, selain amanah kuliah (skripsi) tentunya buat saya. Dan kesemuanya adalah hal baru yang tentu membutuhkan waktu untuk belajar lebih dalam pada ketiganya. (Teringat syair sebuah nasyid “Tak ada beban tanpa pundak”, rite? )

1. Ketua Komisi II DPM FKIP
Di awal kepengurusan, saya hanya bertugas selaku sekretaris komisi II ini, yang bertugas dalam hal auditing dan budgeting (keuangan). Kemudian di tengah-tengah kepengurusan terjadi reshuffle yang menaikkan saya ke posisi ketua. Sementara saya sangat “buta” sekali dalam hal itu..Jangankan menjalankan TUPOKSI komisi II, bahkan ketika nama saya tercantum dalam Ranah Legislatif ini, ada sebuah tanda tanya besar dari dalam diri, mampukah???
Namun tidak berarti saya buta sama sekali, mungkin hanya butuh pembiasaan saja. Karena terkadang “frame” orang terhadap LK ini, yang terlintas adalah Lembaga Super Power, Tukang Kritik, Tidak ada kerjaan/progja (sidang melulu), Cuma bagi uang kemahasiswaan, orangnya galak-galak, dan segudang “frame” lainnya yang mungkin menjadi suatu ketidaknyamanan. Namun itu bukanlah penghalang untuk belajar, karena hakikatnya belajar dunia sebenarnya itu dimulai dari kampus, mengembangkan diri secara maksimal pun di kampus. Dan DPM FKIP menjadi salah satu sarana pembelajaran bagi saya yang masih sangat “meraba-raba” dalam memahami UU dan konstitusi yang berlaku.



Bersambung....