Amanah, oh Amanah...
Oke, Ulasan kali ini sedikit lebih berat.
Jika dari tulisan-tulisan lalu lebih banyak berbicara cinta dan kehidupan, maka
kali berbeda. Let’s cekidot.
Berbicara soal amanah, maka yang
terlintas dalam benak kita adalah sebuah pertanggung jawaban, sebuah
kepercayaan. Amanah. Sebuah kata yang terdengar sederhana, tapi ternyata runyam
jika tidak dilaksanakan dengan baik, Ketika ALLOH mempercayakan sebuah amanah
kepada kita, maka sebenarnya amanah itu adalah sebuah tugas yang mampu kita
jalankan. Ketika amanah itu “mampir” di pundak kita, maka sebenarnya pundak
kita mampu memikulnya meskipun terkadang harus tertatih-tatih.
Kita mengenal amanah dimulai sedari kita
kecil, SD, SMP, dan SMA. Di Bangku kuliah, bahkan pemahaman sebuah amanah jauh lebih ditekankan
lagi, tentang arti tanggung jawab dan kewajiban dalam menjalani amanah, serta
konsekuensi terhadap amanah itu sendiri.
Lebih spesifik lagi, di tahun 2012 ini
ada 3 amanah utama yang dirasa menjadi “pemberat” pundak, selain amanah kuliah
(skripsi) tentunya buat saya. Dan kesemuanya adalah hal baru yang tentu
membutuhkan waktu untuk belajar lebih dalam pada ketiganya. (Teringat syair
sebuah nasyid “Tak ada beban tanpa pundak”, rite? )
1. Ketua Komisi II DPM FKIP
Di awal kepengurusan, saya hanya bertugas
selaku sekretaris komisi II ini, yang bertugas dalam hal auditing dan budgeting
(keuangan). Kemudian di tengah-tengah kepengurusan terjadi reshuffle yang
menaikkan saya ke posisi ketua. Sementara saya sangat “buta” sekali dalam hal itu..Jangankan
menjalankan TUPOKSI komisi II, bahkan ketika nama saya tercantum dalam Ranah
Legislatif ini, ada sebuah tanda tanya besar dari dalam diri, mampukah???
Namun tidak berarti saya buta sama
sekali, mungkin hanya butuh pembiasaan saja. Karena terkadang “frame” orang
terhadap LK ini, yang terlintas adalah Lembaga Super Power, Tukang Kritik,
Tidak ada kerjaan/progja (sidang melulu), Cuma bagi uang kemahasiswaan,
orangnya galak-galak, dan segudang “frame” lainnya yang mungkin menjadi suatu
ketidaknyamanan. Namun itu bukanlah penghalang untuk belajar, karena hakikatnya
belajar dunia sebenarnya itu dimulai dari kampus, mengembangkan diri secara
maksimal pun di kampus. Dan DPM FKIP menjadi salah satu sarana pembelajaran
bagi saya yang masih sangat “meraba-raba” dalam memahami UU dan konstitusi yang
berlaku.
Bersambung....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar