Krisis Figuritas & Kesenjangan Komunikasi
Ada kalanya kita disakiti, tersakiti, atau menyakiti..
Itu biasa. Sudah Sunnatulloh. Hidup dikelilingi orang banyak,maka seperti itu resikonya. Tapi apa jadinya jika yang menyakiti adalah orang yang mestinya kita hormati?yang mestinya mengayomi kita?yang mestinya meneguhkan kita?Rela berkorban demi kita?Seperti sebuah percakapan yang terjadi kemarin malam antara Ade & Ayu (Ade itu Adek Ane satu2nya yg bungsu. Kami biasa ngomong berbahasa Inggris kalo lagi di Rumah.Bukan ngeSok, tapi sebagai ajang latihan aja, biar lancar) :Ade : "Close ur mouth" (sambil menunjuk ke arah objek tanpa melihat matanya)Ayu : "Actually, I don't like his statement. But We have to respect for him" (kata saya sambil mendelik dia agar menghentikan pembicaraannya)Ade : " but He doesn't respect for me!"Nah Lhoo...Bocah SMA kelas 3 aja paham soal respek-merespek, hormat-menghormati. Bahkan sedari Sekolah Dasar juga kita dTuntun untuk mengerti istilah "perbuatan terpuji", "hormat-menghormati", "empati", dan istilah2 yg biasa nongol dipelajaran PKN lainnya yang mengacu pada kehidupan bermasyarakat.Yah..Selain itu mungkin ada faktor lain yang membuat anak sepolos itu bisa ngmg kykgitu..hufft..Mba mu ini menyayangimu. Semoga nanti km jadi anak Sholeh yo..ada ataupun tidak masalah ini.
Well, back to our problem.Bisa ane katakan ini adalah soal KRISIS FIGURITAS..Bisa jadi.dan sangat possible..kelihatannya sepele. Tapi semakin kesini, hal ini menjadi poin kelemahan "beliau" yang membuat kami semua gak nyaman..Bisa jadi ini juga soal komunikasi.Ane cuma bisa bilang SABAR..SABAR..SABAR..dan SABAR..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar